
MADE Dartayasa, begitulah nama lengkap lelaki ini. Rekan-rekannya kerap memanggilnya dengan nama Darto Helm karena kepalanya memang lumayan botak. Dia dikenal sebagai tokoh bebotoh tajen di Desa Adat Kedonganan. Saban kali dilaksanakan tajen di Kedonganan, Dartayasa pasti ada. Pasalnya, dialah penggerak, penyelenggara dan penanggung jawab arena adu ayam tersebut.
Namun, entah kenapa, setahun terakhir, Dartayasa absen dari judi tajen. Dia mengaku bertobat dan berhenti dari aktivitas adu ayam itu. Tak cuma itu, Dartayasa juga berada di barisan terdepan untuk menghapuskan tajen dari wilayah Desa Adat Kedonganan bersama para tokoh dan pimpinan lembaga kemasyarakatan yang ada di Kedonganan. Apa motivasinya menghentikan kebiasaan matajen? Bagaimana kiat Dartayasa mengerem keinginannya berjudi? Apa pula komentar Dartayasa mengenai cara menangani judi tajen di
Sejak kapan Anda menjadi bebotoh tajen?
Orang tua saya merupakan bebotoh tajen. Sejak umur tujuh tahun, saya sudah biasa diajak orangtua ke tempat tajen atau tempat-tempat judi lainnya. Sehingga, secara otomatis saya mengikuti jejak orang tua menjadi bebotoh tajen.
Menurut Anda, apa sih sisi baik dari tajen?
Kalau saya sendiri mengamati, segi baik tajen juga ada. Saya melihat ada filosofi yang baik dari tajen. Dalam tajen itu betul-betul diamalkan
Lantas, apa sisi buruk dari tajen?
Nah, ini. Sisi buruk tajen sudah jelas ada, pasti. Pertama, waktu yang seharusnya kita gunakan untuk bekerja mencari penghasilan terbuang, kita pakai untuk bermain. Kedua, secara material, kadang-kadang hasil jerih payah yang kita kumpulkan bisa habis karena permainan kita terlalu keras, terlalu tinggi bertaruh. Ini dampaknya terhadap keluarga tidak bagus. Ketiga, secara moril, seorang penjudi di tengah-tengah masyarakat tidak mendapatkan tempat yang bagus. Pandangan masyarakat selalu bersifat negatif.
Melihat kedua sisi dari tajen itu, kalau ditimbang-timbang, mana lebih besar, sisi baik atau sisi buruknya?
Kalau saya pikir, lebih besar sisi buruk atau negatifnya. Saya sudah sekian lama menjalani kehidupan sebagai bebotoh tajen, belum pernah saya rasakan atau temukan orang yang menjadi kaya karena matajen, menjadi makmur karena berjudi, menjadi sejahtera karena berjudi. Yang timbul hanyalah kesengsaraan, kerugian baik secara moral maupun material.
Bagaimana cara Anda mengerem keinginan untuk matajen?
Untuk mengerem keinginan berjudi tajen bagi saya sederhana saja. Tajen itu sesungguhnya
Anda tak takut dimusuhi teman-teman sesama bebotoh tajen karena sikap Anda ini?
Dalam dunia judi tajen, tidak ada unsur saling bermusuhan. Umumnya bebotoh tajen sadar betul bahwa itu merupakan hak individu masing-masing. Kalau mereka memang harus bermain, berjudi, itu tergantung mereka sendiri.
Alasan mendasar Anda tobat atau menghentikan kebiasaan matajen itu apa? Apakah karena tajen yang pernah Anda gelar digerebek polisi?
Bukan. Saya sadar dan memilih berhenti dari kegiatan matajen bukan karena digerebek polisi. Toh selama ini tajen sering digerebek, tetap saja ada. Penggerebekan itu tidak cukup membuat bebotoh tajen sadar. Saya berhenti matajen atau menggelar tajen semata-mata karena menyadari apa yang selama ini saya tekuni sejak dulu betul-betul membawa dampak negatif bagi saya sendiri maupun keluarga.
Anda berani menyatakan tajen di Kedonganan tidak akan ada lagi. Apakah Anda yakin sikap Anda ini diikuti atau dituruti oleh bebotoh tajen lainnya di Kedonganan?
Saya berani katakan ya. Kenapa begitu, karena saya inilah yang selama ini menjadi penggerak, penyelenggara sekaligus penanggung jawab. Kalau tidak ada saya yang melaksanakan, tak ada tajen di Kedonganan.
Kalau ada bebotoh tajen di Kedonganan yang membandel menggelar tajen sendiri tanpa melibatkan Anda?
Saya pasti labrak. Ini sudah menjadi kesepakatan bersama dengan pimpinan-pimpinan desa. Kesepakatan ini harus kita amankan bersama-sama demi nama baik desa kita.
Jika mereka matajen di luar wilayah Desa Adat Kedonganan?
Ya, itu risiko dari yang bersangkutan. Saya tak bisa memaksa. Kepentingan dan komitmen saya sebatas menjaga agar desa saya ini terbebas dari kegiatan tajen.
Bagaimana dengan tabuh rah?
Itu
Anda mengatakan penggerebekan tidak akan bisa membuat bebotoh tajen sadar dan berhenti matajen. Menurut Anda, langkah apa yang sebaiknya diambil aparat penegak hukum maupun pemerintah?
Dalam menangani judi tajen, mesti dikedepankan unsur pembinaannya, bukan unsur kekerasannya. Kalau unsur pembinaan yang dikedepankan, masyarakat lambat laun akan mengerti dan sadar. Kalau unsur kekerasannya, hasilnya malah berbeda. Justru, bebotoh-bebotoh tajen itu akan bertambah keras juga.
Unsur pembinaan seperti apa yang Anda maksud?
Ya, pendekatan terhadap para bebotoh itu sendiri, para tokoh-tokoh bebotoh termasuk tokoh-tokoh masyarakat setempat. Semakin banyak pembinaan, semakin banyak sosialisasi, saya kira masyarakat akan semakin mengerti apa dampak buruk judi tajen itu.
Sempat berkembang wacana untuk mengatur tajen ke dalam peraturan daerah (perda). Menurut Anda, perlu tidak seperti itu?
Kalau tajen dianggap sebagai bagian dari kebudayaan
Terakhir, apa imbauan Anda bagi rekan-rekan Anda sesama bebotoh tajen?
Saya mengimbau rekan-rekan sesama bebotoh tajen untuk bisa secara perlahan menghentikan kebiasaan matajen itu. Saya sudah merasakan bagaimana suka duka orang matajen sejak kecil dan saya melihat lebih banyak dampak buruk yang ditimbulkan. Lebih baik kita mengisi hari-hari dengan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk menunjang kehidupan keseharian kita atau pun di masyarakat. Selain itu, bagi rekan-rekan bebotoh tajen yang memiliki anak, saya juga mengimbau agar tidak mengajari anak-anak kita untuk mengikuti kebiasaan kita matajen. Saya merasakan betul bagaimana ayah saya mengajak saya sering ke tajen sehingga saya ikut menjadi bebotoh tajen. * I Made Sujaya

Berbincang dengan Prof. I Nyoman Weda Kusuma, M.S.
MENGAJEGKAN budaya Bali tidaklah bermakna sempit untuk mengekslusifkan
-------------------------------------------------------
Apa sesungguhnya arti penting naskah-naskah tradisional bagi bangsa ini?
Naskah-naskah tradisional merupakan peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang dapat ditemukan hampir di seluruh tanah air. Naskah tersebut pada hakikatnya merupakan cagar budaya nasional, yang merupakan curahan jiwa bangsa dan dapat dijadikan sebagai sumber membina dan mengembangkan kebudayaan. Maksudnya, lewat dokumen-dokumen seperti itu dapat dipahami dan dipelajari secara lebih nyata dan seksama aspek kehidupan budaya bangsa seperti filsafat, kepercayaan, kehidupan keagamaan dan masalah-masalah yang menyangkut keperluan hidup bangsa secara menyeluruh. Karena itu, naskah-naskah tradisional merupakan sumber yang tidak ternilai bagi aspek kebudayaan kita karena mengandung gambaran yang cukup jelas mengenai pandangan hidup, adat-istiadat, kepercayaan dan sistem nilai pada masa lalu.
Memang,
Selama ini memang sudah ada upaya dari pemerintah untuk menyelamatkan naskah-naskah tradisional yang ada di Bali. Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Bali misalnya sudah melakukan langkah itu dengan mentransliterasi (alih aksara) naskah-naskah tradisional yang tersimpan di
Ke depan, bagaimana semestinya alih aksara itu dilakukan?
Ya, ini mesti dibenahi. Kita tentu tidak ingin upaya pelestarian ini malah semakin menjauhkan makna dari naskah itu yang sesungguhnya. Kalau alih aksaranya mengelirukan, nanti orang malah tersesat. Ke depan jika hendak melakukan alih aksara, setidaknya pemerintah melibatkan konsultan atau pemeriksa atau penilai. Sebelum alih aksara itu dicetak dan disebarkan ke publik, terlebih dulu diperiksa oleh konsultan yang memiliki pengetahuan dan kemampuan di bidang itu. Dengan begitu tidak terjadi ketersesatan.
Disertasi Anda tentang Kakawin Usana
Kakawin Usana Bali merupakan naskah luar keraton, yaitu naskah yang ditulis di luar lingkungan istana. KUB ditulis oleh Nirartha ketika datang ke
Nah, sekarang soal Ajeg Bali. Bagaimana pandangan Anda mengenai hal itu?
Bagi saya, mengajegkan budaya Bali berarti menggali, mengembangkan, mendalami dan melestarikan aspek-aspek kehidupan yang telah diwariskan para leluhur, di antaranya ajaran Agama Hindu, karya sastra/naskah, bahasa Bali, kesenian Bali dan tradisi masyarakatnya. Kalau dihayati secara mendalam, sebenarnya budaya setiap suku bangsa di Tanah Air paling tidak didukung oleh lima unsur pokok yakni: (1) agama yang dianut oleh suku bangsa yang bersangkutan; (2) peninggalan sastranya baik lisan maupun tulis; (3) bahasanya sebagai alat berkomunikasi (bahasa daerah suku bangsa itu); (4) kesenian suku bangsa itu; dan (5) tradisi masyarakatnya. Kelima unsur pokok tersebut mencerminkan sila-sila dari dasar negara kita yaitu Pancasila. Unsur agama mencerminkan sila Ketuhanan Yang Mahaesa; unsur sastra mencerminkan nila-nilai kemanusiaan; unsur bahasa mencerminkan rasa persatuan, unsur kesenian mencerminkan musyawarah dan unsur tradisi mencerminkan keadilan. Jadi, mengajegkan budaya
Bagaimana dengan tantangan untuk mengajegkan
Di era globalisasi seperti sekarang, tantangan untuk mengajegkan budaya






